Jumat, 22 Mei 2009

Tempe dapat perlambat menopause

 

  

 


  

Top of Form

Bottom of Form

 
 

Bottom of Form

"Ketika terjadi menopause, wanita Eropa dan Amerika estrogennya menurun drastis dibandingkan dengan wanita Asia yang kadar estrogennya moderat,"

Bisnis Indonesia - Kamis, 25/03/2004 13:00WIB

BOGOR (Antara): Riset yang dilakukan Herry Winarsi, mahasiswa S-3 Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan bahwa pada kacang-kacangan terutama kedelai, yang juga biasa dikenal sebagai bahan baku tempe, diyakini memiliki sifat yang dapat memperlambat menopause pada perempuan.

Riset tersebut kemudian dijadikan disertasi untuk meraih gelar doktornya dengan judul "Respons Hormonal dan Imunitas Wanita Premenopause terhadap Minuman Fungsional Berbahan Dasar Susu Skim yang di Suplementasi dengan Isoflavon kedelai dan Zn".

Premenopause, menurut perempuan kelahiran Sleman, Yogyakarta 1 Maret 1957 yang menjadi staf pengajar pada Fakultas Biologi di Universitas Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah itu, adalah suatu kondisi fisiologis pada perempuan yang telah memasuki proses penuaan (aging), yang ditandai dengan menurunnya kadar estrogen ovarium.

Penurunan kadar estrogen itu sering menimbulkan gejala yang sangat mengganggu aktivitas kehidupan para perempuan, bahkan mengancam kebahagiaan rumah tangga.

Gejala tersebut, kata dia, disebut sindroma menopause, yang meliputi hot flushes (semburan panas dari dada hingga wajah), night sweat (keringatan di malam hari), dryness vaginal (kekeringan vagina), penurunan daya ingat, insomnia (susah tidur), depresi (rasa cemas), fatigue (mudah capek), penurunan libido, drypareunia (rasa sakit ketika berhubungan seksual) dan incontinence urinary(beser).

Dia juga mengemukakan bahwa sindroma menopause dialami oleh banyak perempuan hampir di seluruh dunia, sekitar 70%-80% perempuan Eropa, 60% di AS, 57% di Malaysia, 18% di Cina, dan 10% di Jepang dan Indonesia.

"Perbedaan jumlah tersebut karena pola makannya," katanya.

Disebutkan bahwa perempuan di Eropa dan Amerika mempunyai estrogen yang lebih banyak ketimbang di Asia.

"Ketika terjadi menopause, wanita Eropa dan Amerika estrogennya menurun drastis dibandingkan dengan wanita Asia yang kadar estrogennya moderat," katanya.

Dia mengatakan sindroma menopause sendiri memicu munculnya berbagai penyakit degeneratif antara lain kanker, tumor, asteoporosis (tulang keropos), astesklerosis dan sebagainya.

  

Tidak ada komentar: